13 Kelurahan pada 3 Kecamatan, Terkena Dampak Banjir Berkepanjangan

Gambar 23. Syafrizal---Anggota DPRD PykMendung pertanda akan turun hujan, sejatinya adalah kesejahteraan bagi masyarakat. Ternyata, tidak demikian halnya dengan sebagian masyarakat pada 13 kelurahan di 3 kecamatan Kota Payakumbuh.

“Buktinya, banyak diantara masyarakat was-was akan datangnya banjir musiman, setidaknya musim banjir hadir 4 kali setahun, mulai sejak tahun 1985 (telah 30 tahun.Red), kian hari kian parah,”ujar anggota DPRD Kota Payakumbuh Syafrizal dari fraksi Bintang Nasdem, di kantor DPRD setempat, Senin (22/2).

Dikatakan Syafrizal, banjir itu awalnya hanya merendam sawah, sekarang sudah mengancam pemukiman, rumah ibadah, sarana pendidikan dan fasilitas umum lainnya.

Ke-13 kelurahan pada 3 kecamatan tersebut adalah Lampasi Tigo Nagori (Latina), tepatnya di kelurahan Parik Muko Aia, Padang Sikabu,Sungai Durian dan Parambahan, kecamatan Payakumbuh Barat dikeluarahan Talang, Seberang Betung dan Padang Data, kemudian di kecamatan Payakumbuh Utara, dikelurahan Napar, Padang Kaduduak, Tambago, Payonibuang,Nan Kodok dan Payolinyam.

Penyebab dari semua itu diduga berawal dari mulainya pembangunan bendungan batang Pulau di Kawasan Api-Api Taratak. Secara teknis dinilai lantai bendungan terlalu tinggi. Penimbunan areal sawah dan saluran pembuangan pada kiri kanan jalan Tan Malaka, dan jalan simpang parik menuju SMPN7.

Kemudian juga berakibat karena sempitnya kaki jembatan batang Pulau. Karena jembatan zaman Belanda berbentuk lingkaran diameter 5M. Meningkatnya debit sumber air dari hulu karena telah banyak drainase permanen, halaman di cor, sehingga resapan air tanah jadi berkurang.

“Setelah itu, kami lihat juga terjadinya ketekoran pembuangan batang pulau karena adanya penyempitan jembatan dan bendungan, sumber air 15 pembuang hanya 5, tekor 10, itulah yang menjadi banjir, “jelas Syafrizal yang sudah dua periode menjadi anggota DPRD itu.

Karena banjir selalu menjadi langganan warga, diperkirakan sekali banjir masyarakat merugi berupa padi, sayuran dan palawija gagal panen,benih membusuk, ikan hanyut, ayam putih / ayam broiler mati, jaringan irigasi, jalan raya, dan drainase rusak.

Kerugian yang dialami masyarakat bukan itu saja, rumah, halaman, dapur dan pekarangan penduduk terendam, warung, kedai, bengkel, terendam air. Bahkan masjid, TPA, Kantor KUA, Kantor Lurah, SD, TK, PAUD terendam air. Kendaraan roda dua dan roda empat mogok dan rusak.

Nah, langkah-langkah yang telah dilakukan pemerintah yakni memperbaiki bendungan batang pulau, tapi belum berhasil maksimal. Mendam tebing batang pulau dan menormalisasi batang pulau.

“Jika persoalan ini lambat disikapi pemerintah, tentunya kita semua cemas terhadap perkiraan bencana berikutnya. Karena air tersendat untuk ke hilir, Batang Pulau bisa saja membuat jalur sendiri dari Parik Muko Aia menuju Napar, Padang Kaduduak, Tambago dan seterusnya. Kerugian akan tambah besar, “ujar politisi Partai Bulan Bintang itu. (Nura/SA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s