PAWAI ALEGORIS TETAP MERIAH WALAUPUN DIGUYUR HUJAN

Menutup kegiatan HUT RI ke 68, Pemerintah Kota  Payakumbuh bersama elemen masyarakat pada Senin (19/08) menghelat Pawai Alegoris setelah tiga tahun kegiatan tersebut absen dilakukan karena bertepatan dengan bulan ramadhan. Sekalipun diguyur hujan lebat sejak jadwal  dimulainya pawai tersebut, akan tetapi antusias publik Payakumbuh dan Limapuluh Kota untuk menyaksikan kegiatan pawai tetap tidak berkurang.

Pawai Alegoris yang diikuti oleh ribuan pelajar SD, SLTP, SLTA, PNS dan organisasi Kepemudaan dan Kemasyarakatan dari 76 kelurahan tersebut, star di GOR Kubu gadang menuju Simpang Labuh basilang, masuk ke Jalan Ahmad yani menuju Tugu Adipura dan berakhir di Panggung Kehormatan depan BRI Cabang Payakumbuh, sejauh lebih kurang 4 Km.

Pawai sempat terhenti lebih kurang satu jam, karena hujan yang sangat lebat. Setelah hujan reda barisan pawai kembali bergerak menuju panggung kehormatan. Di Panggung kehormatan peserta pawai sudah ditunggu oleh Wakil Walikota Payakumbuh Drs. Suwandel Mukhtar, MM didampingi Ketua TP PKK Ny. Hj. Rasyidah Suwandel. Ketua DPRD Kota Payakumbuh Wilman Singkuan, sejumlah Muspida, Pimpinan DPRD, Asisten I Setdako Yoherman, SH, Staf Ahli Walikota dan Kepala SKPD terlihat juga ikut menyambut dan memberi semangat kepada seluruh peserta pawai.

Iring-iringan pawai itu menceritakan sejarah perjuangan bangsa, mulai era penjajahan kolonial Belanda dan Jepang. Kemudian usaha menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan. Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, masa Orde Lama, Orde Baru dan sampai Orde Reformasi sekarang.

Wakil Walikota Payakumbuh Drs. Suwandel Mukhtar, MM dalam sambutannya menyampaikan, kiranya momentum pawai ini diharapkan dapat menambah semangat perjuangan dan rela berkorban setiap warga kota untuk mengisi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan pembangunan. Kehadiran masyarakat jangan hanya sekedar melihat karnaval saja tanpa makna yang jelas, katanya.

Beliau juga menambahkan, kemasan pawai kedepan diharapkan tidak monoton dan didominasi barisan drum band saja, tetapi harus ada aide-ide kreatif lainnya, sehingga pawai ini lebih hidup dan menarik untuk disaksikan, tetapi tetap sarat dengan sejarah perjalanan bangsa.(dev/sy)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s