ACEH JADI PELAJARAN, DIKUNJUNGI KOMISI A

TEKAD BERSAMA DEMI PAYAKUMBUH (BAGIAN 1 DARI 2)

BANDA ACEH


DPRD Komisi A, Alhadi Hamid, H Masrul Malik, Nasrul, Isa Aidil, Syaiful Anwar, H Maharnis Zul, didampingi mitra kerja dari Pemko Payakumbuh Kabag Kesra Mai Aidil, Camat Lamposi Tigo Nagari Yumardius, Kalahar BNK Payakumbuh Syamsir Alam, Subuh menuju ke Banda Aceh. Bersama Komisi A juga ikut serta Ketua DPRD Payakumbuh Wilman Singkuan sejak Minggu hingga Jumat , (24-29/10) lalu.

Kunjungan kerja ke Kota Banda Aceh dan Kota Sabang ini dilakukan untuk mempelajari tentang Kesekretariatan Daerah, khususnya bidang kesejahteraan rakyat, tata pemerintahan, kecamatan dan BNK di masing-masing kota yang dikunjungi.

Komisi A menyebut, bahwa kunjungan kerja kali ini sangat terkait dengan penyusunan arah dan kebijakan pembangunan tahun mendatang. Sebab itu pula, makanya, Kota Banda Aceh dan Kota Sabang yang mendapat funding advice planning global pasca tsunami 2004 lalu, sangat tepat dijadikan tempat belajar dan menimba pengetahuan lewat tinjauan langsung.

“Kami, sesuai dengan amanat menjadi lembaga legislatif yang membawakan keinginan masyarakat untuk maju, tentu ingin kunjungan kerja ini menjadi bermanfaat banyak bagi warga. Makanya, Komisi A memilih untuk belajar langsung dan berkunjung ke Kota Sabang dan Kota Banda Aceh,” ujar anggota Komisi A Syaiful Anwar, saat di Bandara SSK 2 Pekanbaru menuju Banda Aceh.

Banda Aceh kini, serta Kota Sabang di ujung Barat Indonesia, telah dimodernisasi dengan dukungan luar negeri sehingga tata pemerintahannya, meski tetap menganut sistem kenegaraan Indonesia, namun kini Perda Syariah (Qanun) telah menjadi aturan khusus yang melindungi warganya secara sistemasi.

Bertemu dengan Wakil Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal di Ruang Pertemuan Balaikota Banda Aceh memberikan arti baru bagi rombongan. Kini, ungkap Wakil Walikota perempuan itu, masyarakat Banda Aceh tengah fokus ke peningkatan kapabilitas publik.

Belajar dari bencana tsunami 26 Desember 2004 lalu, kini Kota Banda Aceh tak lagi merenung. Kota Banda Aceh telah bangkit dan menjamur pembangunan di mana-mana. Diakui berkah bantuan pemerintah pusat dan luar negeri serta NGO telah menjadikan pesatnya ketermajuan di mana-mana.

“Kini, kota kami selaras dengan tema masyarakatnya, The Cyber City,” ujar Illiza. Memang, di setiap kedai kopi yang terkenal itu, di sudut-sudut kota, sekolah, dimana-mana kita lihat banyak yang online dan berselancar di dunia maya.

Hotspot dan ketersediaan layanan internet di setiap pojok dan sepanjang kota menjadikan masyarakat Banda Aceh kini sangat melek informasi. Tak heran pula, banyak pegawai negeri sipil yang kini mengupgrade pendidikan. Masih muda-muda telah S2.

Illiza Sa’aduddin Djamal sendiri sejak mula menjadi Wakil Walikota, dipercaya oleh sang Walikota Ir. Mawardy Nurdin, M. Eng, Sc untuk mengawal persoalan kesetaraan gender di Banda Aceh. Makanya Qanun (Perda) tentang Kesetaraan Gender ini terus diperjuangkannya sampai tahun keempat pemerintahan Mawardi-Illiza.

8 Maret 2008 lalu, bahkan dari Menteri Kerjasama Jerman, di hari Perempuan se Dunia Illiza memperoleh Gender Award. Keseriusannya membangkitkan semangat kaum perempuan yang kini berjumlah lebih sedikit dari pria di Banda Aceh, telah dilihat hasilnya.

JARANG DI TEMPAT

Menemui Walikota Ir. Mawardy Nurdin, M. Eng, Sc kian hari kian sulit. Seringkali ia melakukan perjalanan dinas ke luar dan dalam negeri. Anehkah menurut pegawai dan masyarakatnya?

Tidak! Hampir seluruh pegawai di lingkungan Pemko Banda Aceh justru senang jika sang Walikota tidak di tempat. Ada harapan khusus tertumpangkan, jika Mawardi pergi ke suatu negera atau ke Jakarta sana.

“Pastinya, setiap pulang dari perjalanan dinas, baik itu MoU, maupun kontrak kerjasama, bahkan funding dan bantuan murni dari luar negeri untuk Kota Banda Aceh selalu dibawanya pulang. Perjalanan ke luar kota yang dilakukannya, benar-benar untuk masyarakat, bukan pribadi,” ujar Boy, salah seorang pegawai.

Saat rombongan DPRD Kota Payakumbuh Komisi A berkunjungan kerja ke kotanya, Mawardi pun sedang di Jakarta. Hari itu tengah ditandatangani MoU tentang pinjaman Bank Dunia untuk sekolah dan rumah sakit di sana.

Bandingkan dengan kita? (bersambung)

 

 

SABANG, NEGERI INDAH, MINIM PUBLIKASI

TEKAD BERSAMA DEMI PAYAKUMBUH (BAGIAN 2 DARI 2)

SABANG

Bicara strata budaya dan komunikasi media, rasanya tak bisa dibandingkan dengan Kota Sabang, di Nanggroe Aceh Darussalam ini. Setiba rombongan di pelabuhan Ulele, Banda Aceh, ada counter kecil yang menjual pariwisata Kota Sabang.

DODI SYAHPUTRA ===

Anzil Khairil Ilyas, pemuda yang menjagai counter pariwisata online yang baru diresmikan itu sebenarnya mengaku gerah. Apa pasal? Sebab di sisi publikasi terjadi himpitan persoalan pendanaan.

Membandingkan dengan di Kota Sabang, ternyata tak jauh berbeda dari keindahan leaflet yang diedarkan di Ulele. Kota Sabang dengan wilayah yang dibatas langsung dengan Lautan Hindia yang menjajal kilometer nol Indonesia ini ternyata hanya dihuni oleh 38 ribu penduduk saja.

“Berkat adanya pegawai dan tentara serta polisi yang setengah jumlah penduduk, maka pulau Weh yang menjadi pusat Kota Sabang ini menjadi terus hidup,” ungkap Sekda Kota Sabang Sofyan Daud di depan rombongan Komisi A DPRD Kota Payakumbuh saat berkunjung ke Sabang dalam rangkaian kunjungan kerja ke NAD Minggu hingga Jumat , (24-29/10) lalu.

Sabang, khususnya di pusatnya di Pulau Weh memiliki ciri khas wilayah yang seperti huruf W. Makanya, lekatlah nama pulau Weh dengan logat Aceh yang khas itu.

TENTANG SABANG

 

Kota Sabang lahir dengan UU No. 10 Tahun 1965 yang terdiri dari 2 Kecamatan, yaitu Kecamatan Sukakarya dan Kecamatan Sukajaya. Kedua kecamatan tersebut lahir dengan PP No. 20 Tahun 1979, kota Sabang merupakan bagian dari Provinsi Nanggoe Aceh Darussalam terletak pada 05046’28”– 05054’28” Lintang Utara dan 95013’02″– 95022’36” Bujur Timur.

 

Luas Kota Sabang adalah 153 km2 serta tinggi rata–rata 28 meter di atas permukaan laut. Batas–batas daerahnya sebelah Utara dengan Selat Malaka, sebelah Selatan dengan Samudera Indonesia, sebelah Timur dengan Selat Malaka, sebelah Barat dengan Samudera Indonesia.

 

Kota Sabang sendiri terdiri dari 5 pulau yaitu Pulau Weh (Pulau Terbesar), Pulau Rubiah, Pulau Klah, Pulau Selako dan Pulau Rondo. Kota Sabang juga memiliki 5 buah danau yaitu Danau Aneuk laot, Danau Paya Senara, Danau Paya Karieng, Danau Paya Peutapen dan Danau Paya Seumesi. Diantaranya yang terbesar adalah Danau Aneuk Laot. Ibukota Kota Sabang adalah Sabang yang berada di pulau Weh, Pulau ini terletak di ujung pulau Sumatra dan merupakan zona ekonomi bebas.

 

Sejak lama Sabang terkenal dengan titik 0 kilometernya, yaitu bagian paling barat dari wilayah Indonesia. Dua kecamatan di Kota Sabang; Kecamatan Sukakarya dan Kecamatan Sukajaya.

 

SEJARAH

 

Kota Sabang sebelum Perang Dunia II adalah kota pelabuhan terpenting dibandingkanTemasek (sekarang Singapura). Sabang telah dikenal luas sebagai pelabuhan alam bernama Kolen Station oleh pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1881. Pada tahun 1887, Firma Delange dibantu Sabang Haven memperoleh kewenangan menambah, membangun fasilitas dan sarana penunjang pelabuhan. Era pelabuhan bebas di Sabang dimulai pada tahun 1895, dikenal dengan istilah vrij haven dan dikelola Maatschaappij Zeehaven en Kolen Station yang selanjutnya dikenal dengan nama Sabang Maatschaappij.

 

Perang Dunia II ikut mempengaruhi kondisi Sabang dimana pada tahun 1942 Sabang diduduki pasukan Jepang, kemudian dibom pesawat Sekutu dan mengalami kerusakan fisik hingga kemudian terpaksa ditutup. Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Sabang menjadi pusat pertahanan Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan wewenang penuh dari pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertahanan RIS Nomor 9/MP/50.

Selaku Bandar yang bebas perdagangan, jangan heran kalau di sini warga kota ada yang memakai mobil Mercedes Benz seri terbaru. Tak heran, jika harga mobil sedan mewah hanya Rp50 juta saja. Sayang, memang hanya untuk dipakai di dalam pulau Sabang, itupun berplat nomor X di belakangnya.

Bicara tentang orang Minang, menurut Sanak yang tinggal lama di sana, ada sekitar 3.000 keluarga Minang di Sabang. Yang keturunan Minang lebih banyak lagi.

“Sayang, sudah sepuluh tahun persatuan keluarga Minang di sini tidak hidup. Kami, kaum muda ingin agar kembali kuat rekatan keluarga Minang di sini. Kehadiran Komisi A DPRD Payakumbuh telah membangkitkan rasa Orang Minang kami lagi,” tukas Jon, salah seorang warga Sabang yang keturunan Kamang, Agam.

Tentang dinamika masyarakat, secara umum, setengah dari 38 ribu penduduk umumnya berpenghidupan sebagai nelayan. Di profesi ini, kebanyakan penduduk yang telah dilokalisir untuk bertempat tinggal di daerah ketinggian, dengan menjauhi daerah pantai terikat adat laut setempat.

Badan Pengembangan Pembangunan Sabang (BPKS) kini mengambil alih penguasaan lahan yang diganti rugi di seputar kawasan pantai. Sehingga, jikapun masih ada penduduk, satu-satu yang tinggal di tepi kawasan pantai, disebutkan berstatus menumpang di sana.

Sayangnya, di Kota Sabang, tidak sepesat di Banda Aceh. Secara pemerintahan tiga Asisten Daerah membantu kinerja Sekda. Namun , Banda Aceh dengan keunggulan Visit Religion Gates, Banda Aceh 2010 tidak terlihat di Sabang. Kota Sabang seperti menjamur area wisata namun tidak terekspos dengan prima.

Maharnis Zul, anggota Komisi A DPRD Payakumbuh sempat menanyakan tentang sebabnya Banda Aceh jor-joran dalam meningkatkan kualitas SDM aparaturnya. Namun, di Sabang terlihat tidak banyak aparatur yang disemangati untuk menambah sumber daya.

Bersama anggota DPR Kota Sabang Wahab Thaib, SKPD, Badan Pengembangan Pembangunan Sabang (BPKS), Sekda Kota Sabang Sofyan Daud mengatakan kini telah dilakukan pembagian ADG (alokasi dana gampong/kampung) Rp400 juta per Gampong.

“Kami juga telah membentuk Majelis Permusyawaratan Ulama yang dibantu sepenuhnya oleh Pemko alokasi anggarannya. Masalah adat diselesaikan dengan adat,” ujar Sofyan Daud.

Tentang narkotika, Sofyan Daud dibantu para asisten menjelaskan bahwa sosialisasi terus dilakukan ke sekolah- sekolah. Semua ini agar pengaruh narkoba yang terus mengancam masyarakat Sabang menjauh.(***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s